Welcome to Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Sumenep

Jam Pelayanan

Senin - Kamis, 07:00 - 15:15

                Jum'at, 07.30 - 10.45 & 13.00 - 14.45

                Sabtu - Minggu, 08.00 - 14.45

Contact Number

Telp (0328) 6762068

                Faks (0328) 667520

  By Admin  

Daftar Karya Puisi dari Pemenang Lomba Cipta Puisi Kabupaten Sumenep 2019

Juara I

Oleh   : Moh. Edi Yusuf (STKIP PGRI Sumenep)

Judul  : Suara Itu

 

Di sana,

Suara saronen terdengar pilu

Seperti panggilan Nuh pada umatnya saat itu

Dan kami, tanpa sadar mendekatinya;

Lupa diri kami siapa

 

Tapi,

Coba dengar lengking saronen itu sekali lagi;

Seperti teriakan Marsitah saat digoreng Fir'aun

 

Juara II

Oleh   : Abdul Warits (Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Sumenep)

Judul  : Pangerat

 

Kudekapkan tubuhku di pinggangmu

Digerayangi lentik jemarimu yang kasar

Tanganmu kuasa mengendalikan perasaanku

Kupiara cinta di ceruk jantungmu

 

Dengan hati-hati, kau pegang seluruh jiwaku

Seperti Joko Tole, aku diasuh panae’

Diasah batu-batu yang lugu

Dibelai, seperti kasih sayang seorang ibu

 

Kau membawaku dari kekar akar siwalan

Menakar gemetar hidup seharian

Naik menuju puncak keletihan

Lelah tak pernah alpa memelukmu

Kau tidak pernah gusar

Di antara debar lubang-lubang antat

 

Berkibarlah Madura di dadaku

Ketika rakara kujatuhkan ke tanah resahmu

Diiris jadi nutrisi hewan gembala 

Disulam jadi tikar serba guna

 

Mayang-mayang yang perawan itu

Telah kujamah dengan hasrat menggebu

Kembang beraroma surga

Kau bergairah lebah yang tergoda

Merubung kucuran nira

Madura kentara, semerbak dalam sukma nusantara

 

Ujungku adalah nafsu sakera

Nuraniku dirasuki ruh celurit

Dari urat nadi menggertak akalmu

Mengalirkan ketegangan-ketegangan

Ketika kau penggal segala harapan

 

Tajam pikiranmu seringkali berkhianat pada kemanusiaan

aku divonis biangkeladi

Antara carok dan bacok

Amarah otak binalmu

diam-diam melukai batinku

 

Ketenanganku adalah perempuan bermata nyalang

Menikam dengan senyuman

Meskipun diamku  kebijaksanaan

gerakku sedang direncanakan 

membunuhmu perlahan-lahan  

 

Juara III

Oleh   : Faidi Rizal (STAIM Tarate Sumenep)

Judul  : Tanèyan Lanjhàng

 

pagi-pagi sebelum mentari mekar

burung bernyanyi di bambu-bambu pagar

bunyi derit pintu rumah yang pendiam

mengantar kami membuang tahi ayam

 

agar sesiapa yang datang bertamu

atau sekadar lewat menuju rindu

tak mencium busuk kesunyian

tak melihat sejumput ulat kenangan

 

daun-daun kering dan bekas gelisah

yang menjamah panjangnya halaman rumah

akan bersih sebelum secangkir kopi

menghangatkan kata mengharumi hati

 

tak perlu berkabar lewat ponsel pintar

hanya untuk bertegur sapa yang lancar

sebab bunyi terompah rumah sebelah

bisa menyambung tulang kata yang patah

 

bila tungku sampai siang tak menyala

harum ikan goreng tak sampai di dada

maka tentu sebelum malam bertandang

piring yang rinding sudah pasti berkembang

 

sarapan pagi yang paling menyenangkan

serta makan malam paling mengenyangkan

adalah menikmati lapar saudara

sambil mengunyah sendiri dalam dada

 

tangan kami tiba-tiba jadi panjang

sekadar bersama-sama ngusung kandang

ikut membangun rumah tanpa bayaran

asal senyum tak hilang dari genggaman

 

kami tak akan pernah menutup mata

menutup hidung dan menutup telinga

bila melihat jalan-jalan berlubang

agar hati tak terpeleset ke jurang

 

akan kami sapu bersih paku duri

agar tak melukai pejalan kaki

sebab yang nyeri pasti kami sendiri

meski luka tak ada di kaki ini

 

bila hujan tangis di rumah sebelah

maka dada kami pulalah yang basah

bila darah banjir dari luka-luka

kamilah yang tenggelam dalam nyerinya

 

bukankah daun gugur dari rantingnya

tak mesti akar yang menanggung perihnya

masih ada kesunyian sederhana

untuk menghapus kesedihan yang ada

 

di sinilah kami tak pernah sendiri

bukan lantaran rumah berjajar rapi

halamannya yang memanjang tanpa pagar

atau makian yang tak pernah terdengar

 

di sini sendiri terkubur sendiri

setelah menghirup putik senyum wangi

yang mekar di bibir pintu dan jendela

yang keluar untuk menangkal petaka

 

doa-doa akan damai berloncatan

ketika cecak pun ramai bersahutan

tapi tak pernah diusir dengan bambu

sebab terkadang ia isyarat tabu

 

malam-malam kalau tidak turun hujan

tua muda metik bulan di halaman

sambil main tebak-tebakan diri

serta ngunyah renyah kisah para wali

 

sebelum menutup pintu dan jendela

tak boleh ada sisa lubang terbuka

hingga cinta dalam dada tak tercuri

dan surga tak akan hilang dalam hati

 

Juara Harapan I

Oleh   : Nurul Imami (SMAN 2 Sumenep)

Judul  : Sapi Karapan

 

Pekat darah menetes

Nafas hangat terhempas

Segelintir keringat mengalir

Bulir air mata terjatuh dengan ceceran-ceceran air liur

Di atas ribuan butir-butir garam yang memuncak

 

Gegas langkah semakin lesat

Pekik suara semakin lantang

Menempuh jalan yang jauh semakin dekat

Dialah sapi karapan

Yang terlahir dari jiwa roh nenek moyangku

 

Lentik jemari berlumur lumpur

Dengan tangguh menghentakkan seutas tali

Debar di dada menusuk jantung

Teriakan menggema memantik sang gelora

Bersama symphoni yang mampu menggetarkan hati

 

Wahai nenek moyangku, bersatulah!

Bersatulah bersama darah yang mengalir dalam diri

Bersatulah bersama suka dan duka yang mengaung

Bersatulah bersama rintihan perih yang membekas

 

Di bawah langit nenek moyangku

Di atas ribuan butir-butir garam

Akan kugapai bintang gemintang bersama sapi karapan

 

Juara Harapan II

Oleh   : Faisol Rahman (IDIA Al-Amien Prenduan, Sumenep)

Judul  : Jakarta, Madura dan Rindu

 

Teguklah hiruk sekitarnya

Pada secangkir minuman vodka;

Bukan lagi hidangan rusia

Melainkan hidangan ala metropolitan jakarta

Sebuah tempat para perantau

Dan bule cina bercinta

Mereka sepakat berkata; Itu jakarta bung!

Tidakkah berbeda?

 

"Menjelang petang di ufuk ramadhan

Kulihat warna jinggahnya yang menawan

Tentang sekumpulan puisi berbau harapan

Menyimpan segumpal rindu pada awan kelabu

Bergelayut menghiasi hati yang kadang rapuh

Pada suara kebesaran tuhan dimalam takbiran

Melantunkan segelombang rindu pada kampung halaman

Tidakkah sama terdengar suaranya?

Melewati mikrofon di masjid-masjid dan musallah

            lalu tibalah pada malam kemenangan

Hanya saja alam sekitarnya yang berbeda

Jakarta kota politan,

Sedangkan gili genting sebuah pulau”

 

Bila tiba pagi di tepi pantai,

Laut enggan memanjakan mata,

Lewat pesan perahu, begen yang tertata rapi

Dan bila malam hari,

Lampu-lampu jalanan murni dari senyum rembulan

 

Di pulau tak ada hari istemewa

Kecuali perayaan Petik laut;

Mengkafani perahu dengan kain warna warni nan indah

Sambil mengaraknya dengan mengelilingi pulau.

Sebagai ritualnya,

Kepala kambing, buah-buahan dan umbul-umbul lainnya

Dengan perahu kecil  sebagai pengantar syukurnya kepada tuhan

 

Nyatanya, aku rindu jalanan desa

Birunya laut di pantai

Rindu pekatnya warna pasir depan rumah

Rindu suara mesin nelayan dipagi hari

Teringat pertengkaran adikku dengan ponakan

Untuk sekedar merebutkan kue lebaran,

Berkumpul bersama keluarga beserta kawan

Menapakkan kaki berkeliling ke rumah-rumah

Berjabat tangan hingga tiba petang

Kurasakan dingin  ditelapak tangannya hilang.

 

Juara Harapan III

Oleh   : Kholilullah (MA Nasy’atul Muta’allimin Sumenep)

Judul  : Bagian Dari Madura

 

1.Carok

sebelum berlaga, pasrah dada dan ritual sudah ada.

di atas talam sepasang calorèt bewrajah moyang

berbinar-binar bersama berlayarnya segala getar.

padahal calorèt-calorèt masih amis darah sejarah.

 

setelah kesepakatan sudah terpampang di teluk dada

di medan lagalah segala onak di di dada berbahasa.

 

roh-roh nenekmoyang bergentayangan, sambil bergumam;

“ini tanah Madura, sekaigus tanah para jawara.

arit dan hargadiri adalah urat kita!”

 

2.Kerrabhan Sapè

 

derap sapi kita melebihi derap kuda perang.

melesat melebihi kilat cahaya. bersayap selaksa mantra

dan kerap kita acu dengan peccot adi rasa.

 

angin jadi cemburu pada lesat-telapak kalèlès itu

padahal panas yang seamsal kerikil ababil

sudah cukup lama bersamadi di lubuk mata [sapi kita]

;paku-paku pilu menusuk-nusuk bokong rindu.

 

ah, sapi kita memang sangat istimewa. melebihi istimewa

sapi pada zaman kaum musa.

 

3.Rokat Tasè’

 

mari kita larungkan saji dengan gayuh doa paling puisi

biar segala cemas-taufan pergi dari ini hati.

 

tentang sampan kita yang kerap melayari wajah laut

telah Tuhan taburkan kembang tujuh rupa .di tubuhnya

 

dan biarkanlah bhitèk yang memuat  jhajhan ghenna’ itu

bertemu dengan khidir di teluk laut biru.

 

lalu meminta selaksa doa paling rahasia;

(agar segala noktah di lembar nasib, terhapus segala).

 

4.Ojhung

 

bila lama hujan tak datang. tanah kerontang.

kita gelar pertarungan dengan manjhalin sebatang.

 

layaknya pertarungan awan dan angin

yang membuat dada langit dingin.

 

hujan. hujan. hujan. menetaslah!

sebab ini jiwa sudah kehabisan airmata.

 

mantra-mantra masih dirapal sepanjang pecutan

sedangkan asap-kemenyan menjadi garis ring pertarungan.

 

tuhan, kami mengharap ‘kau mencatat keinginan kalbu

yang mengharap hujan datang; dengan zikir tubuh.

 

5.Lalabat

 

apabila sebuah kabar sudah menetas debar

di teluk ada ziil yang ingin menghadir.

 

bukan hanya tradisi, tapi ini tuntutan dari hati.

 

mungkin dengan beras tello ghantang

aba’ bisa mengubur suara-suara sumbang.

 

tersebabab tak hanya lidah yang bisa berdoa.

batu-nisan pun bisa meronta meski tanpa suara.

 

aba’ menyaksikan duka paling maha

meski aba’ tahu, derita hanyalah pakaian sementara manusia.

 

orang-orang masih sibuk berbicara tentang yang berpulang

aku pun bertanya: apakah izrail masih di ruang?

 

tak ada satu pun orang yang menjawab

hanya sepi yang mengucap;

 

yang berpulang hanyalah jasadnya tapi arwahnya

akan tetap berkeliaran dari lo’-tello’ sampai to’-pètto’.

 

6.Pandhaba

 

tukang tembang membuka macapat dengan tembang kasmaran

bha?harakala pun datang ke altar upacara: dan berkata :

“sesungguhnya di antara mènnyan,labun,panebbha,rabunan

dan semua ini, adalah berawal dari permintaanku pada adam.

bapakku. dan kemudian biar darma yang ‘kau sakralkan dengan tembang

tak lupa asal keberadaan.tak sunyi dari nyanyi ketaatan.” Ucapnya.

sang panegghes pun menegaskan dengan tembang mèjhil dan pangkor

biar segala kotoran di hati dan dada luntur dengan cara yang akur.

 

waktu menduduki sepertiga malam. tapi ritus tak kunjung usai.

padahal mènnyan sudah dinyalakan. panebbha  diayunkan

rabunan dijungkalkan. labun diselimutkan. nyadhar di selaksa halaman.

 

Malam memawarkan senyum. Tembang salangèt semakin terdengar manyun.

Tukang mamaca dan sang panegghes menegaskan dengan tembang durma:

bha?harakala, pulanglah ‘kau ke teluk sejarah, dan bawalah

kutukan-kutukan yang ‘kau tempelkan di ini dada. kembalilah. kemabalilah.

kembalilah. dengan diiringi tembang suara jiwa. artatè dan dhurma.”

 

7.Tanda’

 

ia bertandang di alunan suara gendang dan gambang

yang gemulai tubuhnya sehalus tarian gelombang.

 

matahari jatuh di muka.sepasang purnama rebah di dada.

 

di antara lantunan kidung, para najagha menyesuaikan gandrung.

ah, sayang keluarga besar sedang terkena pènjhung.

 

mungkin dengan kèjhung angling. mata-mata mereka

tak kubuat berpaling. apalagi dengan tiupan suling.

 

matahari semakin membara. suluh birahi di dada

ah, lagi-lagi di bawah tèrop hujan rupiah.

 

:demi hasrat, demi budaya –budak tak berdaya-

 

 


 

Agenda
Pengumuman

Kontak Kami